BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak Negara tropis dan sub tropis. Semakin tahun penderita DHF (Dengue Haemorragik Fever) semakin bertambah. Antara tahun 1975-1995 DHF (Dengue Haemorragic Fever ) / DBD (Demam Berdarah Dengue) terdeteksi keberadaannya di 102 negara dari 5 wilayah WHO yaitu: 20 negara Afrika, 42 negara Amerika, 7 negara Asia Tenggara, 4 negara Mediterania timur, 29 negara Pasifik Barat. Seluruh wilayah tropis di dunia saat ini telah menjadi hiperendemis dengan ke-4 serotipe virus secara bersama-sama di wilayah Amerika, Thailand, Asia Pasifik dan Afrika, Indonesia. (WHO:2000).
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau yang biasa disebut Demam Berdarah Dengue (DBD), sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1968 di Indonesia tepatnya di kota Surabaya sampai sekarang sering menjadi penyebab kematian terutama pada ana remaja dan dewasa. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, sejenis virus yang tergolong arbovirus (arthropod-bonr viruses) artinya virus yang ditularkan melalui gigitan arthropoda misalnya nyamuk aedes aegepty (betina) (Soemarmo Sunaryo PoerwoSoedarmo, 1983).
Tahun 2006 DHF kembali merebak dengan jumlah kasus yang cukup banyak. Hal ini mengakibatkan sejumlah RS menjadi kewalahan dalam menerima pasien DHF. Sejak Januari sampai 5 Maret 2006 total kasus DHF di seluruh propinsi di Indonesia sudah mencapai 26.015 orang, dengan jumlah kematian 389 orang . Kasus tertinggi terdapat di propinsi DKI Jakarta (11.534 orang), sedangkan di propinsi NTT (3,96%) (Titte.K.A ,2008).
DHF dapat menyerang mulai dari anak-anak, dewasa, orang tua, tetapi anak-anak merupakan yang paling rentan terhadap serangan DHF (Dengue Haemorragik Fever). Kasus kematian akibat DHF (Dengue Haemorragik Fever) sering terjadi pada anak-anak, hal ini di sebabkan selain karena kondisi daya tahan anak-anak tidak sebagus dewasa, juga karena sistem imun anak-anak belum sempurna. Penyakit DHF (Dengue Haemorragik Fever) jika tidak mendapat perawatan yang memadai dapat mengalami perdarahan yang hebat, syok dan dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, semua kasus DHF (Dengue Haemorragik Fever) sesuai dengan kriteria WHO harus mendapat perawatan di tempat pelayanan kesehatan /rumah sakit (Silalahi, 2006).
Jumlah penderita kasus demam berdarah dangue (DBD) hingga akhir 2010 di Kota Cimahi tercatat sebanyak 1.792 kasus dengan 9 orang di antaranya meninggal. Dinas Kesehatan Kota Cimahi mencatat, angka penderita DBD pada 2010 mengalami penurunan, jika dibandingkan dengan temuan kasus DBD pada 2009 lalu, yang mencapai sebanyak 2.039 penderita dan 7 orang di antaranya meninggal. Diperkirakan, penurunan kasus DBD pada 2010 jika dibandingkan dengan temuan kasus DBD pada 2009, dikarenakan adanya anomali cuaca (pikiran-rakyat.com 25/01/2011 02:00:55).
Pada kesempatan ini kelompok kami mengambil kasus asuhan keperawatan pada pasien DHF di Lantai 2 internist Rumah Sakit Mitra Kasih sehubungan dengan mulai banyaknya insiden DHF dikarenakan kondisi yang mulai memasuki musim hujan yang mana vector penyebab terjadinya demam berdarah ini berkembang biak dengan pesat, dan disamping itu pentingnya peran perawat dalam penatalaksanaan kasus DHF melatarbelakangi kami untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien yang terjangkit DHF.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman nyata mengenai penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan DHF
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan DHF
b. Mampu melakukan analisa data pada pasien dengan DHF
c. Mampu membuat Diagnose keperawatan pada pasien DHF
d. Mampu membuat Perencanaan keperawatan pada pasien DHF
e. Mampu melakukan Implentasi keperawatan pada pasien DHF
f. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien DHF
C. Manfaat Penulisan
1. Untuk institusi seperti Rumah Sakit, sehingga dapat memberi masukan untuk meningkatkan kinerja asuhan keperawatan.
2. Untuk profesi keperawatan, sehingga bisa memberi gambaran asuahan keperawatan yang seharusnya diberikan kepada pasien.
3. Untuk pendidikan keperawatan, sehingga mampu memberikan wawasan yang luas bagi mahasiswa dalam asuhan keperawatan
D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus meliputi lima tahapan proses keperawatan. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah :
1. Wawancara
Merupakan pengumpulan data dengan menanyakan secara langsung dan terarah yang meliputi autoanamnesa dimana data didapatkan secara langsung dari klien dan Alloanamnesa dimana data terdapat dari keluarga klien.
2. Observasi
Merupakan pengumpulan data yang melihat secara langsung melalui pengamatan, perilaku, keadaan klien, masalah kesehatan dan perawatan terhadap Klien
3. Pemeriksaan Fisik
Merupakan teknik pengumpulan data melalui pemeriksaan fisik head to toe yang dilakukan untuk mendapatkan data dasar.
4. Studi Kepustakaan
Teknik pengumpulan data yang didapatkan melalui referensi untuk mendapatkan keterangan secara teoristis berkaitan dengan kasus yang disajikan.
5. Studi Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan mempelajari data dari status klien atau catatan-catatan yang berkaitan dengan penyakit klien.
E. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini yaitu dimulai dengan Kata Pengantar, Daftar Isi, BAB I Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang, Tujuan, Manfaat, Metode dan Sistematika Penulisan. BAB II Tinjauan Teoritis yang berisi mengenai Konsep Dasar Penyakit dan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan DHF. BAB III Tinjauan kasus yang berisi Asuhan Keperawatan Pada Pasien Tn.C dengan DHF di lantai 2 internist RS. Mitra Kasih. BAB IV Pembahasan, BAB V Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran, dan yang terakhir yaitu Daftar Pustaka.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995 ).
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegepty (Seoparman, 1996).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419).
DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar secara efidemik. (Sir, Patrick manson, 2001).
Demam Dengue adalah contoh dari penyakit yang disebabkan oleh vector, penyakit ini disebabkan oleh virus yang disebarkan melalui populasi manusia oleh nyamuk aedes aegepty yaitu nyamuk yang hidup di daerah tropis dan berkembang baik pada sumber air yang mandek (Suzzane Smeltzer, 2001).
2. Anatomi Fisiologi Hematologi
Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpa. Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena berbentuk cairan.
Darah merupakan medium transport tubuh, volume darah manusia sekitar 7% - 10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter. Keadaan jumlah darah pada tiap-tiap orang tidak sama, bergantung pada usia, pekerjaan, serta keadaan jantung atau pembuluh darah. Darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut:
1. Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah.
2. Butir-butir darah (blood corpuscles), yang terdiri atas komponen-komponen berikut ini.
a. Eritrosit: sel darah merah (SDM – red blood cell).
b. Leukosit: sel darah putih (SDP – white blood cell).
c. Trombosit: butir pembeku darah (platelet).
Fungsi darah terdiri atas:
1) Sebagai alat pengangkut yaitu:
a. Mengambil O2/zat pembakaran dari paru-paru untuk diedarkan keseluruh jaringan tubuh.
b. Mengangkat CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru.
c. Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan dibagikan keseluruh jaringan/alat tubuh.
d. Mengangkat/mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal.
2) Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantaraan leukosit, antibodi/zat-zat antiracun.
3) Menyebarkan panas keseluruh tubuh.
Bagian-bagian Darah
1) Air: 91%
2) Protein: 3% (albumin, globulin, protombin dan fibrinogen)
3) Mineral: 0.9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat, magnesium, kalsium dan zat besi).
4) Bahan organik: 0,1% (glukosa, lemak,asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino).
3. Etiologi
Penyebab utama:
1) Virus dengue tergolong albovirus
2) Vektor utama: Aedes aegypti, Aedes albopictus.
Adanya vektor tesebut berhubungan dengan:
a. Kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperlauan sehari-hari.
b. Sanitasi lingkungan yang kurang baik.
c. Penyedaiaan air bersih yang langka.
d. Daerah yang terjangkit DHF adalah wilayah padat penduduk karena antar rumah jaraknya berdekatan yang memungkinkan penularan karena jarak terbang aedes aegypti 40-100 m.
e. Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple biters) yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat, (Noer, 1999).
4. Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali). Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra seluler.
Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena.
Terjadinya trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguan hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu: perubahan vaskuler, trombositopenia dan gangguan koagulasi. Pada otopsi penderita DHF, ditemukan tanda-tanda perdarahan hampir di seluruh tubuh, seperti di kulit, paru, saluran pencernaan dan jaringan adrenal.
5. Klasifikasi DHF
Menurut derajat ringannya penyakit, Dengue Haemoragic Fever (DHF) dibagi menjadi 4 derajat (WHO, 1997) yaitu:
1) Derajat I: Demam dengan test rumple leed positif.
2) Derajat II: Derajat I disertai dengan perdarahan spontan dikulit atau perdarahan lain.
3) Derajat III: Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/ hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan pasien menjadi gelisah.
4) Derajat IV: Syock berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur
6. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :
1) Demam
Demam terjadi secara mendadak berlangsung selama 2-7 hari kemudian turun menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala-gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia, nyeri punggung , nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyertainya. (Soedarto, 1990 ; 39).
2) Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari ke 2 dari demam dan umumnya terjadi pada kulit dan dapat berupa uji torniquet yang positif mudah terjadi perdarahan pada tempat fungsi vena, petekia dan purpura. (Soedarto, 1990 ; 39). Perdarahan ringan hingga sedang dapat terlihat pada saluran cerna bagian atas hingga menyebabkan haematemesis. (Nelson, 1993 ; 296). Perdarahan gastrointestinal biasanya di dahului dengan nyeri perut yang hebat. (Ngastiyah, 1995 ; 349).
3) Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba, meskipun pada anak yang kurang gizi hati juga sudah. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal harus di perhatikan kemungkinan akan tejadi renjatan pada penderita . (Soederita, 1995 ; 39).
4) Renjatan (Syok)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ke 3 sejak sakitnya penderita, dimulai dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan, jari kaki serta sianosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis yang buruk. (Soedarto ; 39).
7. Test Diagnostik
1) Darah
a. Trombosit menurun.
b. HB meningkat lebih 20 %
c. HT meningkat lebih 20 %
d. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
e. Protein darah rendah
f. Ureum PH bisa meningkat
g. NA dan CL rendah
h. NS1, IgG, IgM, dan Dengue Blot
2) Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
a. Rontgen thorax : Efusi pleura.
b. Uji test tourniket (+)
8. Diagnose Banding
Gambaran klinis DHF seringkali mirip dengan beberapa penyakit lain seperti:
1) Demam chikungunya.
Dimana serangan demam lebih mendadak dan lebih pendek tapi suhu di atas 40ºC disertai ruam dan infeksi konjungtiva ada rasa nyeri sendi dan otot.
2) Demam typhoid
Biasanya timbul tanda klinis khas seperti pola demam, bradikardi relatif, adanya leukopenia, limfositosis relatif.
3) Anemia aplastik
Penderita tampak anemis, timbul juga perdarahan pada stadium lanjut, demam timbul karena infeksi sekunder, pemeriksaan darah tepi menunjukkan pansitopenia.
4) Purpura trombositopenia idiopati (ITP)
Purpura umumnya terlihat lebih menyeluruh, demam lebih cepat menghilang, tidak terjadi hemokonsentrasi.
9. Penatalaksanaan
1) Medik
a. DHF tanpa Renjatan
a) Beri minum banyak (1 ½ – 2 Liter / hari)
b) Obat anti piretik, untuk menurunkan panas dapat juga dilakukan kompres
c) Jika kejang maka dapat diberi luminal (antikonvulsan) untuk anak <1th dosis 50 mg dan untuk anak >1th 75 mg. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3mg / kb BB ( anak <1th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ kg BB.
d) Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat
b. DHF dengan Renjatan
a) Pasang infus RL
b) Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 – 30 ml/ kg BB )
c) Tranfusi jika Hb dan Ht turun
2) Keperawatan
a. Pengawasan tanda-tanda vital secara kontinue tiap jam
b. Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
c. Observasi intake-output
d. Pada pasien DHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda-tanda vital tiap 3 jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 ½ liter-2 liter per hari, beri kompres.
e. Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht, Trombocit, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
f. Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri o2 pengawasan tanda – tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, obsrvasi productie urin tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.
g. Resiko Perdarahan
a) Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
b) Catat banyak, warna dari perdarahan
c) Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro Intestinal.
h. Peningkatan suhu tubuh
a) Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodic
b) Beri minum banyak
c) Berikan kompres
10. Komplikasi
1) DHF mengakibatkan pendarahan pada semua organ tubuh, seperti pendarahan ginjal, otak, jantung, paru paru, limpa dan hati. Sehingga tubuh kehabisan darah dan cairan serta menyebabkan kematian.
2) Ensepalopati.
3) Gangguan kesadaran yang disertai kejang.
4) Disorientasi, prognosa buruk.
11. Patoflowdiaghram

B. Konsep Asuhan Keperawatan
Asuhan Keperawatan pada pasien dengan DHF (Dengue Hemoragic Fever)
1. Pengkajian
1) Identitas
a. Umur
DHF merupakan penyakit daerah tropik yang sering menyebabkan kematian pada anak, remaja dan dewasa (Effendy, 1995).
b. Jenis kelamin
Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pada penderita DHF. Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada anak perempuan daripada anak laki-laki.
c. Tempat tinggal
Penyakit ini semula hanya ditemukan di beberapa kota besar saja, kemudian menyebar kehampir seluruh kota besar di Indonesia, bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah penduduk yang padat dan dalam waktu relatif singkat.
2) Keluhan Utama
Penderita mengeluh badannya panas (peningkatan suhu tubuh) sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Sering terdapat riwayat sakit kepala, nyeri otot dan pegal pada seluruh badan, panas, sakit pada saat menelan, lemah, nyeri ulu hati, mual, muntah dan penurunan nafsu makan.
4) Riwayat Penyakit Terdahulu
Tidak ada hubungan antara penyakit yang pernah diderita dahulu dengan penyakit DHF yang dialami sekarang, tetapi kalau dahulu pernah menderita DHF, penyakit itu bisa terulang dengan strain yang berbeda.
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit ini tidak ada hubungan dengan faktor genetik dari ayah atau ibu. Riwayat adanya penyakit DHF didalam keluarga yang lain (yang tinggal didalam satu rumah atau beda rumah dengan jarak rumah yang berdekatan) sangat menentukan karena penyakit ini dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aegepty.
6) Riwayat Kesehatan Lingkungan
DHF ditularkan oleh 2 jenis nyamuk, yaitu 2 nyamuk aedes:
a. Aedes aigepty: Merupakan nyamuk yang hidup di daerah tropis terutama hidup dan berkembang biak di dalam rumah, yaitu pada tempat penampungan air bersih, seperti kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan. Dengan jarak terbang nyamuk + 100 meter.
b. Aedes albapictus.
7) Riwayat Tumbuh Kembang
Terjadi penurunan berat badan, karena nafsu makan yang berkurang dan kemungkinan dehidrasi.
8) Pengkajian Per Sistem
a. Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
b. Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat terjadi DSS.
c. Sistem Cardiovaskuler
Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositopeni, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
d. Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesaran limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.
e. Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna merah.
f. Sistem Integumen
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
9) Pemeriksaan Laboratorium pada DHF Akan Dijumpai:
a. IgG dengue positif.
b. Trombositopenia.
c. Hemoglobin meningkat > 20 %.
d. Hemokonsentrasi (hematokrit meningkat).
e. Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia.
Pada hari ke- 2 dan ke- 3 terjadi leukopenia, netropenia, aneosinofilia, peningkatan limfosit, monosit, dan basofil
a. SGOT/SGPT mungkin meningkat.
b. Ureum dan pH darah mungkin meningkat.
c. Waktu perdarahan memanjang.
d. Asidosis metabolik.
e. Pada pemeriksaan urine dijumpai albuminuria ringan.
2. Diagnosa keperawatan
Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien DHF menurut Christiante Effendy, 1995 yaitu:
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia).
2. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia.
4. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
5. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah.
6. Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh.
7. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus).
8. Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.
9. Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien.
3. Intervensi Keperawatan
| No | Diagnosa | Tujuan | Intervensi | Rasional |
| 1. | Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia). | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Pasien bebas dari demam, dengan kriteria hasil: Suhu tubuh normal (36º-37ºC),nadi 68x/menit akral teraba dingin | 1. Kaji saat timbulnya demam. 2. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam. 3. Anjurkan pasien untuk banyak minum (2,5 liter/24 jam.±10 gelas/hari) 4. Berikan kompres hangat 5. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal. 6. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter. | 1. untuk mengidentifikasi pola demam pasien 2. Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien 3. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak 4. Dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh. 5. pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh. 6. pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi |
| 2. | Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Volume cairan terpenuhi. | 1. Kaji keadaan umum pasien (lemah, pucat, takikardi) serta tanda-tanda vital. 2. Observasi tanda-tanda syock. 3. Berikan cairan intravena sesuai program dokter 4. Anjurkan pasien untuk banyak minum. 5. Catat intake dan output. | 1. Anjurkan pasien untuk banyak minum. 2. Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok. 3. Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami kekurangan cairan tubuh karena cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke dalam pembuluh darah. 4. Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh. 5. Untuk mengetahui keseimbangan cairan. |
| 3. | Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi, dengan kriteria hasil: pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan/dibutuhkan. | 1. Kaji keluhan mual, sakit menelan, dan muntah yang dialami pasien 2. Kaji cara / bagaimana makanan dihidangkan. 3. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur. 4. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. 5. Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari. 6. Berikan obat-obatan antiemetik sesuai program dokter. | 1. Untuk menetapkan intervensi selanjutnya. 2. Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan pasien. 3. Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan. 4. Untuk menghindari mual. 5. Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi. 6. Antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan diharapkan intake nutrisi pasien meningkat |
| 4. | Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, rasa nyaman pasien terpenuhi. Kriteria hasil: Nyeri berkurang sampai dengan hilang. | 1. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien 2. Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang. 3. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri. 4. Berikan obat-obat analgetik sesuai pesanan medis | 1. untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien. 2. Untuk mengurangi rasa nyeri 3. Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadap nyeri yang dialami. 4. Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien. |
| 5. | Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh yang lemah. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Pasien mampu mandiri setelah bebas demam. Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi | 1. Kaji keluhan pasien. 2. Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien. 3. Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat 4. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien. | 1. Untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien 2. Untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya. 3. Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat. 4. Akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain. |
| 6. | Resiko terjadi syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan tubuh. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Tidak terjadi syok hipovolemik. Tanda-tanda vital dalam batas normal. Keadaan umum baik. | 1. Monitor keadaan umum pasien 2. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam. 3. Monitor tanda perdarahan. 4. Chek haemoglobin, hematokrit, trombosit 5. Berikan transfusi sesuai program dokter. 6. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik. | 1. memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani. 2. vital normal menandakan keadaan umum baik. 3. Perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik. 4. Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut. 5. Untuk menggantikan volume darah serta komponen darah yang hilang. 6. Untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesegera mungkin. |
| 7. | Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus). | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Tidak terjadi infeksi pada pasien | 1. Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infuse 2. Observasi tanda-tanda vital. 3. Observasi daerah pemasangan infus. 4. Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis. | 1. Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadi infeksi. 2. Menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital. 3. Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus. 4. Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut. |
| 8. | Resiko terjadi perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Tidak terjadi tanda-tanda perdarahan lebih lanjut. Jumlah trombosit meningkat. | 1. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis. 2. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat 3. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut. 4. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya | 1. Penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah. 2. Aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan perdarahan 3. Membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin 4. Memotivasi pasien untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan. |
| 9. | Kecemasan berhubungan dengan kondisi pasien yang memburuk dan perdarahan yang dialami pasien. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Kecemasan berkurang | 1. Kaji rasa cemas yang dialami pasien 2. Jalin hubungan saling percaya dengan pasien. 3. Tunjukkan sifat empati 4. Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya 5. Gunakan komunikasi terapeutik | 1. Menetapkan tingkat kecemasan yang dialami pasien. 2. Pasien bersifat terbuka dengan perawat. 3. Sikap empati akan membuat pasien merasa diperhatikan dengan baik. 4. Meringankan beban pikiran pasien 5. Agar segala sesuatu yang disampaikan diajarkan pada pasien memberikan hasil yang efektif |
BAB III
PENGAMATAN KASUS
KAJIAN KEPERAWATAN
Ruangan : Lt 2, ruang internis Autoanamnese: klien
Kamar : 201 Alloanamnese: keluarga klien
Tgl masuk RS : 25 april 2011
Tgl pengkajian : 25 april 2011,Jam 13.00 WIB
A. PENGKAJIAN
I. IDENTIFIKASI
A. PASIEN
Nama : Tn. C.R
Umur : 36 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : menikah
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Anak ke : 1 (satu) dari 6 (enam) bersaudara
Agama/Suku : Islam/sunda
Warga Negara : WNI
Bahasa : Sunda dan Indonesia
Pendidikan : SMP
Alamat : Jl.Ciawitali Gg.Sukabakti RT.04 RW.10 Cimahi
B. PENANGGUNG JAWAB
Nama : PT. Jamsostek
Hubungan dengan pasien: Asuransi
II. DATA MEDIK
Diagnose sementara : Observasi Febris, DHF, Thypoid
Diagnose definitive : DHF
III. KEADAAN UMUM
A. Keadaan sakit
Pasien tampak sakit sedang
Alasan:
Pasien terpasang infuse RL 500 ml dengan tetesan 20 tetes/menit
1. Kesadaran :
Skala koma Glasgow
a. Respon motorik : 6
b. Respon bicara : 5
c. Respon membuka mata : 4
Jumlah : 15
Kesimpulan : pasien dalam keadaan composmentis atau sadar penuh. Pasien mampu mengikuti perintah sederhana pada saat pengkajian
2. Tekanan darah
110 mmhg
70
MAP : 1Sistole +2Diastole = 110+2(70) = 250 = 83,3
3 3 3
Kesimpulan : Perfusi ginjal memadai (>70)
| ||||
3. Suhu : 370 C di Oral Axilla
4.
|
|
|
|
|
5.
|
|
|
|
|
Kuat Lemah
B. PENGUKURAN
1. Tinggi badan : 168 cm
2. Berat badan : 40 kg
3. IMT (Indeks Massa Tubuh) : BB kg = 40 Kg = 14,1
TB (cm)2 2,82
Kesimpulan : 14,1 menunjukan IMT kurang
C. 
GENOGRAM

GENOGRAM![]() | |||||
IV. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN
A. POLA PERSEPSI KESEHATAN DAN PEMELIHARAAN KESEHATAN
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan bahwa sehat itu sangat berharga. Apabila ada keluhan seperti demam ringan pasien langsung mencari pengobatan, biasanya dengan obat warung dan pengobatan tradisional berupa cacing. Namun apabila sudah parah pasien langsung berobat ke dokter
2. Riwayat penyakit saat ini
a. Keluhan utama: demam
b. Riwayat keluhan utama: Pasien mengatakan sudah 9 hari demam disertai dengan mual. Mual dirasakan setelah makan. Jika demam meningkat pasien sulit membuka mata dan terasa berat.
3. Riwayat kesehatan yang pernah dialami
Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah mengalami sakit hingga dirawat di Rumah sakit.
4. Pemeriksaan fisik
a. Kebersihan rambut: rambut hitam, sedikit ada ketombe, berminyak.
b.Kulit kepala: tidak ada lesi, kurang bersih.
c. Kebersihan kulit: keringat berlebih, tidak ada lesi, kulit tidak kering.
d.Higiene rongga mulut: bersih
B. POLA NUTRISI DAN METABOLIK
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan makan sehari tiga kali, teratur, adanya nafsu makan. Pasien tidak terlalu banyak minum, kurang lebih 4-6 gelas perhari.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan nafsu makan berkurang karena mulut terasa pahit dan sering mual setelah makan. Pola makan terganggu, makanan yang bisa dikonsumsi hanya makanan kering berupa crakers. Sejak sakit pasien dianjurkan untuk banyak minum dan terlihat melaksanakan anjuran. Pasien mengatakan minum air putih 8 gelas dalam sehari.
3. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan rambut : Rambut hitam, distribusi merata, sedikit ketombe, rambut berminyak, sedikit kotor.
b. Hidrasi kulit : Tidak ada hidrasi
c. Palpebra/konjungtiva : Palpebra sedikit gelap/konjungtiva tidak anemis
d. Sclera : Tidak icterik
e. Hidung : Terdapat sekret
f. Rongga mulut : Bersih
g. Gigi : Ada karang gigi
h. Gusi : Gelap
i. Gigi palsu : Tidak ada
j. Lidah : Putih
k. Pharing : Tidak ada pembengkakan
l. Getah bening : Tidak ada pembengkakan
m. Kelenjar parotis : Tidak ada pembengkakan
n. Abdomen
1) Inspeksi : Bentuk datar (simetris), tidak ada lesi
2) Auskultasi : Peristaltic usus 24 x/menit
3) Palpasi :Nyeri tekan kuadran empat kanan bawah, benjolan tidak ada
4) Perkusi : Ascites tidak ada
o. Kulit
1) Edema : Negative
2) Icterus : Negative
3) Tanda-tanda radang : Tidak Nampak tanda peradangan
p. Lesi : Tidak ada lesi
4. Pemeriksaan Diagnostik
a) Tanggal 26 April 2011
· Hasil tes darah
| Pemeriksaan Imun dan hematologi | Hasil | Satuan | Normal | Interpretasi | |
| SGOT | 89 | U/L | P : ≤ 17 | L : ≤ 25 | SGOT tinggi |
| SGPT | 101 | U/L | P : ≤ 17 | L : ≤ 25 | SGPT tinggi |
| Hb | 13,3 | gr% | P : 12-15 | L : 13-17 | normal |
| Leukosit | 6200 | /mm3 | 4000-10.000 | normal | |
| Hematokrit | 40 | % | P : 37-46 | L : 40-49 | normal |
| Trombosit | 97000 | /mm3 | 150.000-450.000 | Trombosit rendah | |
C. POLA ELIMINASI
1. Keadaan sebelum sakit
Klien mengatakan BAB 1x dalam sehari pada saat pagi hari, konstipasinya lembek, berwarna kuning,
Dalam BAKnya pun tidak ada masalah, klien BAK 3-6x dalam sehari, berwarna kuning jernih
2. Keadaan sejak sakit
Klien mengatakan belum pernah BAB semenjak di rawat, BAK klien dalam sehari 3x,Warna urin kuning kecoklatan normal.
3. Observasi:
Klien tampak kurang minum dan jarang buang air besar, dan buang air kecil
4. Pemeriksaan fisik
a. Peristaltik usus :24 x/menit
b. Palpasi kandung kemih : penuh
c. Nyeri ketuk ginjal : negative
D. POLA AKTIVITAS DAN LATIHAN
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan sehari-hari bekerja sebagai pegawai swasta dan lebih sering beraktivitas menggunakan kendaraan bemotor.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien hanya berbaring di tempat tidur (bedrest) karena keadaan lemah.
a. Observasi harian
· Makan : mandiri
· Mandi : mandiri
· Pakaian : mandiri
· Kerapihan : bantuan keluarga
· BAB : mandiri
· BAK : mandiri
· Mobilisasi di tempat tidur: bantuan keluarga
b. Postur tubuh : tegap
c. Gaya jalan : seimbang
d. Anggota gerak yang cacat: tidak ada
3. Pemeriksaan fisik
a. Perfusi pembuluh perifer kuku: kembali dalam tiga detik
b. Thoraks dan abdomen
· Inspeksi
o bentuk toraks : datar
o sianosis : tidak ada
· palpasi
vocal premitus : getaran kanan-kiri seimbang
· perkusi : sonor
batas paru hepar : ics 4
· auskultasi
o suara napas :
vesikuler di daerah lapang paru
bronchovesikuler di percabangan bronkus dan trakhea
bronchial di daerah trachea
o suara tambahan : tidak ada
o suara ucapan : kualitas kiri-kanan sama
o
c. jantung
· inspeksi : ictus kordis tidak tampak
· palpasi : ictus kordis teraba
· perkusi
batas atas jantung : ics 2-3
batas kanan jantung : linea sternalis kanan
batas kiri jantung : linea media clavicularis kiri
· auskultasi
bunyi jantung II A : bunyi tunggal
bunyi jantung II P : bunyi tunggal
bunyi jantung I T : bunyi tunggal
bunyi jantung I M : bunyi tunggal
bunyi jantung II irama gallop : tidak ada
murmur : tidak ada
d. lengan dan tungkai
· atrofi otot : tidak ada
· rentang gerak : luas
· kaku sendi : tidak ada
| 5 | 5 |
| 5 | 5 |
· uji kekuatan otot :
kesimpulan: kekuatan otot penuh
· refleks fisiologi : ada refleks
· refleks patologi :
babinsky kiri : negatif
kanan : negatif
· clubbing jari : tidak ada
· varises tungkai : tidak ada
e. columna vertebralis
· inspeksi : kelainan bentuk tidak ada
· palpasi : nyeri tekan ada
· N III-IV-VI : ada gerakan bola mata
· N XI : mampu mengangkat bahu dan gerakan kepala ada
· Kaku kuduk : tidak ada
E. POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien dapat tidur dengan teratur dan nyenyak kurang lebih tujuh jam per hari dan bangun dengan wajah segar. Apabila pasien sedang tidak bekerja waktunya digunakan untuk beristirahat dirumah saja.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan dapat tidur dengan lebih lama karena setiap harinya berada dan beraktivitas ditempat tidur. Keadaan pasienpun lemah jadi tidak banyak melakukan aktivitas.
Observasi: wajah tampak mengantuk, palpebra sedikit gelap.
F. POLA PERSEPSI KOGNITIF
1. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan tidak pernah menggunakan alat bantu kesehatan, karena tidak ada anggota tubuh yang bermasalah.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan rasa tidak nyaman dengan peralatan kesehatan yang digunakan, tapi diterimanya karena pasien ingin cepat sembuh.
3. Pemeriksaan fisik
a. Penglihatan
Kornea : jernih
Visus : 6/6
Pupil : isokor diameter 3 mm, refleks cahaya kanan/kiri = +/+
b. Pendengaran
Membran timpani : tidak terlihat pantulan cahaya
c. N I : bisa mencium bau minyak kayu putih
d. N V sensorik : bisa merasa sensasi halus dan kasar
e. N VII sensorik : bisa merasakan rasa pahit, asin, manis
G. POLA PERSEPSI DAN KONSEP DIRI
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan dirinya sangat bermakna dalam keluarga, pasien di keluarga berperan sebagai seorang ayah yang bekerja setiap hari dilapangan dan selalu berkendara.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan sejak sakit sangat bergantung kepada keluarga dan yang lebih penting yaitu istri.
3. Observasi
Kontak mata : ada kontak mata
Rentang perhatian : orientasi penuh
Suara dan cara bicara : sedikit pelan dan jelas
4. Pemeriksaan fisik
· Kelainan bawaan yang nyata : tidak ada
· Kulit : tidak icterik
· Penggunaan protesa : tidak ada
H. POLA PERAN DAN HUBUNGAN DENGAN SESAMA
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan hubungan dengan keluarga dan kerabat baik, karena kesehariannya bekerja menuntut harus bisa bersosialisasi.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan hubungan tetap terjalin dengan baik, dukungan dari keluarga dan teman sangat berharga.
I. POLA PRODUKSI DAN SEKSUALITASI
Pada saat dilakukan pengkajian tidak dikaji.
J. POLA MEKANISME KOPING DAN TOLERANSI TERHADAP STRESS
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien mengatakan bisa mengatasi stress dengan melakukan pekerjaan dan mengatasinya dengan lebih banyak melakukan aktivitas yang bisa menghilangkan stress.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan bahwa sakitnya ini tidak terlalu mengganggu pada keadaan psikologinya. Menerima sakit ini dengan sabar, apabila membutuhkan suatu untuk menyelesaikan masalahnya, akan diselesaikan dengan cara berdiskusi dengan keluarga dan meminta pendapat.
K. POLA SISTEM NILAI KEPERCAYAAN
1. Keadaan sebelum sakit
Pasien beragama Islam dan biasa melakukan sholat 5 waktu dengan berjamaah di masjid jika sempat.
2. Keadaan sejak sakit
Pasien mengatakan sejak sakit lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah dan lebih untuk beribadah. Terlihat alat sholat di samping tempat tidur pasien dan pasien terlihat solat di tempat tidur.
V. DAFTAR OBAT YANG DIBERIKAN PADA PASIEN
1. Propepsa
a. Dosis Umum:
b. Dosis untuk pasien yang bersangkutan
c. Cara pemberian obat : peroral
d. Mekanisme kerja dan fungsi obat
e. Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan
f. Kontraindikasi
g. Efek samping obat
2. Neurodek
a. Dosis Umum:
b. Dosis untuk pasien yang bersangkutan
c. Cara pemberian obat : peroral
d. Mekanisme kerja dan fungsi obat
e. Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan
f. Kontraindikasi
g. Efek samping obat
3. Paracetamol
a. Dosis Umum:
b. Dosis untuk pasien yang bersangkutan
c. Cara pemberian obat : peroral
d. Mekanisme kerja dan fungsi obat
e. Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan
f. Kontraindikasi
g. Efek samping obat
4. Lesichol
a. Dosis Umum:
b. Dosis untuk pasien yang bersangkutan
c. Cara pemberian obat : peroral
d. Mekanisme kerja dan fungsi obat
e. Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan
f. Kontraindikasi
g. Efek samping obat
5. Ceftriaxon
a. Dosis Umum:
b. Dosis untuk pasien yang bersangkutan
c. Cara pemberian obat : peroral
d. Mekanisme kerja dan fungsi obat
e. Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan
f. Kontraindikasi
g. Efek samping obat
6. Ranitidin
a. Dosis Umum:
b. Dosis untuk pasien yang bersangkutan
c. Cara pemberian obat : peroral
d. Mekanisme kerja dan fungsi obat
e. Alasan pemberian obat pada pasien yang bersangkutan
f. Kontraindikasi
g. Efek samping obat
VI. ANALISIS DATA
| NO | DATA | ETIOLOGI | MASALAH | ||||||||||||
| 1 | DS: pasien mengatakan sudah mengalami demam selama 9 hari dan merasa lemas. DO: · pasien nampak lemah · TD : 110/70 mmHg ; N: 80x/mnt ; R: 20x/mnt ; S : 39,6°C · berkeringat dingin · akral teraba dingin | Suhu tubuh meningkat | Peningkatan suhu tubuh | ||||||||||||
| 2 | DS: pasien mengatakan tubuh terasa lemas, dan sering haus. DO: · pasien nampak lemah · TD : 110/70 mmHg ; N: 80x/mnt ; R: 20x/mnt ; S : 39,6°C · Nampak tanda dehidrasi (Finger print) · Turgor kulit kembali lebih dari 2 detik | peningkatan permeabilitas dinding plasma | Kurang volume cairan tubuh | ||||||||||||
| 3 | DS: pasien mengeluh mual dan tidak nafsu makan DO: pasien hanya menghabiskan setengah porsi makanannya dan hanya bisa makan kue kering untuk menggantinya. | Asam lambung tinggi Pembesaran hati Capsula hepatika meregang Menimbulkan reseptor mual Intake nutrisi berkurang | Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan. |
VII. DIAGNOSA
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh akibat invasi virus dengue.
2. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual yang ditandai dengan penurunan nafsu makan.
VIII. INTERVENSI
| No | Diagnosa keperawatan | Tujuan | Intervensi | Rasional |
| 1. | DP 1: Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh akibat invasi virus dengue. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Suhu tubuh turun dengan kriteria : -Pasien mengatakan panasnya berkurang. -Suhu tubuh normal 36-37°C -Nadi 80x/mnt -Pada perabaan suhu tubuh pasien tidak panas | 1. Observasi TTV tiga kali sehari. 2. Berikan kompres dingin. 3. Anjurkan pasien agar banyak minum 2,5-3 L / hari. 4. Mengganti pakaian dengan yang tipis. 5. Kolaborasi Pemberian anti piretik sesuai pesanan medis. | 1. Untuk mengetahui secara dini adanya kelainan dan mengetahui perkembangan klien. 2. Kompres dingin akan membantu menurunkan suhu tubuh. 3. Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat, sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. 4. Membantu penyerapan keringat 5. Membantu penurunan suhu tubuh. |
| 2 | DP 2: Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Volume cairan terpenuhi.. dengan kriteria hasil hidrasi terpenuhi, turgor kulit baik. | 1. Kaji keadaan umum pasien (lemah, pucat, takikardi) serta tanda-tanda vital. 2. Observasi tanda-tanda syock. 3. Berikan cairan intravena sesuai program dokter 4. Anjurkan pasien untuk banyak minum. 5. Catat intake dan output. | 1. Untuk menentukan intervensi selanjutnya 2. Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok. 3. Pemberian cairan IV sangat penting bagi pasien yang mengalami kekurangan cairan tubuh karena cairan langsung masuk ke dalam pembuluh darah. 4. Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh. 5. Untuk mengetahui keseimbangan cairan. |
| 3 | DP 3: Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual yang ditandai dengan penurunan nafsu makan. | Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, Mual hilang dan nafsu makan meningkat. Dengan Kriteria hasil: Pasien tidak mengeluh mual Pasien tidak lemas Pasien mau makan | 1. Mengkaji keluhan mual. 2. Memberikan makanan yang mudah dicerna. 3. Memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering 4. Jelaskan pada pasien manfaat nutrisi bagi tubuh terutama sedang sakit 5. Kolaborasi dalam pemberian antiemetic sesuai dengan pesanan medis. | 1. Menetapkan intervensi selanjutnya. 2. Membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan 3. Menghindari mual 4. Meningkatkan pengetahuan bagi pasien dan keluarganya sehingga memotivasi pasien agar mau makan 5. Anti emetic dapat menurunkan tingganya asam lambung sehingga mengurangi rasa mual |
IX. IMPLEMENTASI
| TGL | DP | WAKTU | IMPLEMENTASI | NAMA PERAWAT |
| 25/04 2011 | 1 | 13.30 | Observasi TTV TD :90/60 mmHg Suhu :39,6°C Respirasi :16x/mnt Nadi :68x/mnt | Nopi Puspitasari |
| 25/04/2011 | 1 | 13.35 | Memberikan obat penurun panas (Sanmol 3x1) | Eka Ratna Juwita |
| 25/04 2011 | 1 | 14.00 | Memberikan injeksi intracutan (skin test) dengan obat ceftriaxon | Eka Ratna Juwita |
| 26/04 2011 | 1 | 10.00 | Observasi TTV TD : 110/70 mmHg Suhu : 36,8°C Respirasi :18x/mnt Nadi : 74x/mnt | Eka Ratna Juwita |
| 26/04 2011 | 1 | 13.00 | Menganjurkan pasien banyak minum 8-10 gelas/hari | Eka Ratna Juwita |
| 28/04/2011 | 2 | 10.00 | Mengganti cairan infuse: RL 500cc 20 tetes/menit | Lucky Andrianto |
| 28/04/2011 | 2 | 13.00 | Mengkaji haluaran urine | Lucky Andrianto |
| 26/04 2011 | 3 | 11.30 | Memberikan therapy injeksi ranitidin dan ceftriaxon | Helmi ika nandi astina |
| 27/04 | 1 | 10.30 | Observasi TTV TD :110/70 mmHg Suhu : 36,2°C Respirasi : 18x/mnt Nadi : 80x/mnt | Eka Ratna Juwita |
| 28/04/2011 | 3 | 09.00 | Mengkaji keluhan pasien: Demam (-) dengan Suhu: 36,2°C, mual sudah berkurang. | Lucky Andrianto |
| 28/04/2011 | 3 | 11.30 | Memberikan terapi injeksi ranitidine | Lucky Andrianto |
X. EVALUASI
DP 1
S : Pasien mengatakan sebelumnya demam di siang dan malam hari, skarang
demam pada saat malam hari saja.
O : TD 90/60 mmHg, Suhu 39,6°C, Respirasi 16x/mnt, Nadi 68x/mnt
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi 1,2,3,4,5.
DP 2
S : Pasien mengatakan tidak terlalu lemas, sudah banyak minum dan sering
kencing
O : Pasien terlihat sering ke kamar mandi
A : masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi 1,2,3,5.
DP 3
S : Pasien mengatakan mual pada saat mau makan sudah sedikit berkurang.
O : Pasien tidak menghabiskan makanannya, makanan hanya habis 1/2 porsi
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi 1,2,3,4,5 dilanjutkan
XI. DISCHARGE PLANNING
BAB IV
PEMBAHASAN
DHF (Dengue Haemoragic Fever) atau sering disebut dengan Penyakit Demam Berdarah (DBD) merupakan penyakit daerah tropik yang sering menyebabkan kematian pada anak, remaja dan dewasa.
Tanda dan gejala yang muncul pada DHF yaitu: Badan demam panas tinggi lebih dari 2 hari, Nyeri pada ulu hati, terdapat bercak bintik merah di kulit yang tidak hilang walau ditekan, ditarik, diregangkan dan lain sebagainya, Bisa mengeluarkan darah dari hidung (mimisan), muntah darah, dan melalui buang air besar, Penderita bisa pucat, gelisah, ujung kaki dan ujung tangan dingin.
Pasien Tn. C (36) datang ke rumah sakit setelah 9 hari demam dengan perawatan di rumah. Pada saat datang tidak ditemukan petekhie dan tidak dilakukan uji rumple leed karena demam sudah lebih dari 1 minggu. Pada saat memasuki ruangan perawatan suhu tubuh Tn. C mencapai 39,6ºC/axila, tekanan darah 110/70 mmHg, Heart rate: 68x/menit, Respirasi 20x/menit. Menurut pasien Penyakit DHF ini menyerangnya kemungkinan karena cuaca yang mulai musim hujan sehingga nyamuk dbd mulai berkembang biak dan penyakitnyapun mulai mewabah di musim hujan juga disebabkan daya tahan tubuhnya yang sedang melemah.
Pada pemeriksaan foto thorax terdapat bercak di bagian paru dan dokter menyatakan adanya bronchitis, namun Tn. C tidak pernah ada keluhan batuk maupun sesak. Pasien mengatakan tidak merokok, namun pekerjaan sehari-hari menggunakan motor sehingga kemungkinan bronchitis disebabkan oleh polusi udara.
Jumlah trombosit Tn. C saat dikaji pada tanggal 26 April 2011 yaitu 97.000/mm3, namun terjadi penurunan pada tanggal 27 April 2011 menjadi 79.000/mm3 dan terjadi peningkatan di hari berikutnya 28 April 2011 yaitu 88.000/mm3.
Pada tanggal 28 April 2011 pasien sudah tidak ada keluhan, namun jumlah tron\mbositnya belum kembali normal sehingga masih dilakukan perawatan inap untuk melanjutkan terapi yang dianjurkan dokter. Pasien mendapatkan izin pulang setelah keadaan benar-benar pulih dan trombosit mendekati nilai normal untuk selanjutnya dapat melakukan rawat jalan dengan tetap mengontrol jumlah trombosit.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Penyakit demam berdarah dengue atau yang disingkat sebagai DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina lewat air liur gigitan saat menghisap darah manusia.
Selama nyamuk aides aigypti tidak terkontaminasi virus dengue maka gigitan nyamuk dbd tersebut tidak berbahaya. Jika nyamuk tersebut menghisap darah penderita dbd maka nyamuk menjadi berbahaya karena bisa menularkan virus dengue yang mematikan. Untuk itu perlu pengendalian nyamuk jenis aedes aegypti agar virus dengue tidak menular dari orang yang satu ke orang yang lain.
Pencegahan yang baik yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan agar nyamuk tidak dapat bersarang, karena nyamuk aedes aegepty bersarang di lingkungan yang kotor seperti tempat sampah dan genangan air.
Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap Penderita yang diduga menderita DHF dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau Rumah Sakit, mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok / kematian.
B. SARAN
Untuk Institusi atau Rumah Sakit:……
Untuk pendidikan……

Tidak ada komentar:
Posting Komentar